bawaan orok

August 20, 2008

ada teman yang baru saja datang dan bicara tentang tambang. ia bilang, ingin riset soal kontrak karya pertambangan.

agaknya ia bisa temukan, bagaimana modal menyusun serpih-serpih hukum. menjadi benteng agar rakyat tak bisa masuk dalam lingkaran lebih dekat. menjadi payung, agar perselingkuhan dengan pemerintah korup dijamin aman. menjadi apa saja, yang penting menguntungkan. disini hukum lebih sebagai alat legitimasi yang mendepak apa yang seharusnya dilindungi hukum itu sendiri.

dalam bahasa sederhana, orang sering bilang, itu bawaan orok kapitalisme…

modal. bangsat.

2 Responses to “bawaan orok”

  1. hafidzohalmawaliy Says:

    Abang ICW.. Mengapa di sini kau marah-marah dan mengumpat? Bukankah kepada Za’ kau begitu tenang menyentuh, mengingatkan, tajam, mengiris, seperti sembilu bercampur bubuk mesiu. Tapi debumnya tak sampai mengotorimu.. Ayolah, jangan mengumpat begitu.. meski demikian, jangan anggap aku anak si pemilik modal ya.. Aku hanya merasa ‘eman sekali’ melihat kebijakan yang kau bangun dan beranjak menua, ternoda karena ulah keji mereka..

    Tapi, jika kau anggap mengumpat adalah bagian dari hak asasi manusia, atau semboyan merdeka, misalnya, ok. aku sepakat, mereka memang “…” :-)

    hehe2…kenapa km bisa masuk ke halaman ini? padahal hanya kuniatkan untuk tulisan kecil, penggalan yang bisa jadi kadang emosional… :-)
    tentang umpatan,
    mungkin hanya soal bagaimana dan diwaktu apa ekspresi diungkapkan..
    in the fact, bukankah substansinya sama?
    Sekarang, aku sedang jalani “riset kecil” tentang industri ekstraktif itu. Mencoba temukan “serpihan norma hukum” yang digunakan untuk membunuh kita semua…

  2. hafidzohalmawaliy Says:

    ..in the fact, bukankah substansinya sama???

    Tidak, menurutku itu akan jadi berbeda sekali Abang, jika ungkapan itu disampaikan bukan oleh orang yang tepat, di waktu, tempat, dan mungkin juga bahasa yang tepat. Abang sendiri bilang kan, “munkin hanya soal bagaimana dan di waktu apa ekspresi diungkapkan…”

    Bagaimana Abang, kau sepakat denganku bukan? Buktinya, kenapa gambar “kebijaksanaan” Pak Tua tiba2 menghilang dari halaman ini :-) Kau merasa tidak “berhak” lagi mengklaim bahwa filsafat Pak Tua adalah falsafahmu juga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s