bicara pada anak

January 11, 2012

anakku lelaki. manusia pertama setelah aku dan isteriku, dua orang yang dibuang terpisah, yang hadir mengisi pagi, malam dan esok.

anakku lelaki. mau jadi apa kau nanti? aku tak tahu. jadi apa sajalah. kau pasti bisa memilih.tapi  nanti setelah mampu memilih. itulah tugas kami mengantarmu hingga kau bisa memilih…

bismillah..

 

- setelah dua tahun tidak nulis disini, tulisan pertama tentang anak :) -

(-Es) Be Ye

October 12, 2010

saya punya presiden, katanya antikorupsi. tapi kasus bibit-chandra tetap saja dibiarkan kena polusi.

mahkamah agung bahkan tidak mau terima pra peradilan kasus ini. buat apa? pn anggodo menang, pt anggodo menang, ma anggodo menang. gila. mungkin sebenarnya di istana, anggodo juga menang.

“tenang, kita didukung RI-1″.. begitu salah satu percakapan anggodo yang diperdengarkan di persidangan mahkamah konstitusi 3 november 2009 lalu. lebih dari satu tahun lalu.

tapi, presiden ku tak bisa apa-apa. dan aku kehilangan rasa hormatku (yang sebenarnya hampir-hampir tak kumiliki). apalagi soal pemberantasan korupsi. lama-lama aku mikir, jangan-jangan presiden ku itu memang ingin kpk mati. ditutup. kemudian dilelang pada koruptor.

ah, tidak. tidak boleh. aku harus melawan.
tapi tidak mungkin aku melawan sendiri. ayo gabung, kita bikin bah…

sudah lama

March 3, 2009

lama tidak menulis disini. seorang teman tempo bilang, kadang menulis gaya “lebai” itu butuh latihan yang terus menerus. sementara saya, haha2 sekarang sudah 3 maret 2009, sementara tulisan terakhir di halaman PENGGALAN ini September 2008. hmm…lebih setengah tahun.. ck ck ck..

dan, hari ini, saya mau nulis lagi. Senyum. Satir. bahkan –biar sedikit romantis– juga akan ada sakit dan pedih. (Apa selalu begitu biar bisa romantis?)

sudah,  tulisan tentang tulisan ini cukup sampai disini dulu.

400 travel cheque

September 13, 2008

ketika negara dipimpin para pencuri, penipu dan maling. Ketika para bankir, pengusaha dan bahkan pengacara busuk berselingkuh. Inilah yang kita sebut kleptocarzy. semua berebut menjadi yang ter…

seperti temuan ppatk itu, 400 travel cheque telah dicairkan anggota dewan terkait pemilihan deputi gubernur senior bank indonesia. tahukah, itu uang darimana? salah satu bank besar. harapannya? kebijakan BI untuk sektor financial, moneter dan perbankan mengarah pada pembelaan kepentingannya.

dan, 400 cheque tidak akan jadi sia-sia. 400 kali Rp. 50 juta, dengan jumlah “paket” terkecil RP. 500juta per setiap anggota dewan. gila.

berharap pada siapa? meluruskan benang kusut, atau bahkan memutus kemelut rumitnya korupsi disini? orang mulai meletakkan asa pada kpk. lembaga dengan huruf tengah berwarna merah.

merah yang kadang enggan. seperti perkara 400 cheque ini, seperti skandal blbi ribuan triliun itu. selalu berdalih. atau seperti besan si presiden. selalu berdalih. belum cukup bukti, masih penyelidikan, dan sebagainya. “kau memang kami pilih memimpin, tapi jangan coba main-main, bung”

tuan jaksa

September 8, 2008

tidak banyak yang dengar, di kamar kecil, setelah vonis 20 tahun penjara diucapkan seperti petir yang disambut cemas-cemas harap, “saya kan wayang, mas”.

Kamis siang itu, 4 september 2008. di pengadilan tipikor, di satu tempat dimana harapan dan kepercayaan mulai dapat tumbuh, di satu gedung hampir tak terawat, orang-orang berdiri berdesakan. menunggu keadilan untuk tuan jaksa pemeras, tuan jaksa korup, tuan jaksa ….cuih. dan, riuh tepuk tangan, helaan nafas panjang memenuhi ruang ketika hakim bilang, “tidak ada alasan meringankan!”. Berbelit-belit.

Ia terbukti melindungi salah seorang pengusaha busuk, yang tambun diantara belulang dan antrian rush ekonomi makro negeri ini. menjilat dengan lidah kewenangannya.

tp, ah, janganlah kebencian ini membuat ku tidak adil….

orang mulai berharap pada satu tangan besi yang mulai tajam dan jadi semakin keras untuk penghisap darah rakyat itu. pada komisi dengan huruf tengah berwarna merah. tapi, ah tidak..mereka masih berdalih, bung. masih plintat-plintut cari-cari alasan agar tidak bisa tangani kasus si pengusaha busuk. ayolah jangan jadi tumpul lagi, jangan jadi pemangkas tunas yang mulai tumbuh ini…

kau memang kami pilih berdiri di depan, tapi, awas, jangan main-main!!!

lisan

September 3, 2008

tradisi kita masih tradisi lisan. hanya satu kata yang ditulis, dari 1000 kata yang diucapkan. yang kemudian, janji tumpah ruah, hampir tanpa makna.

puasa dan istana

September 3, 2008

hari ketiga, belajar menikmati ngantuk yang amat sangat di siang hari. belajar untuk menikmati macet jakarta..(kenapa serasa lebih sumpek?) haha2

oh ya…tadi siang, ada berita menarik di Antara. kantor berita nasional. “Apa yang kau cari Denny Indrayana?”

saya kira judul ini cukup provokatif. baik terhadap publik, pembaca pada umumnya, aktivis anti korupsi, ataupun mantan mahasiswa dan –katakanlah– mantan tim riset saat di kampus. atau minimal, mantan pegiat lsm waktu di jogja dulu. jujur saja, dalam beberapa hal saya terpukul, tapi sekaligus berharap. agar satu tahun tidak jadi sia-sia.

tapi, apa iya beliau mampu? pertanyaan ini yang seringkali datang dari rekan media yang sempat kenal –dan juga sempat bermimpi tentang sebuah oposan yang tangguh. ada satu catatan sangat sinis, bahkan, “jadi, sampai disana saja suaramu, bung!”. ah.. di satu sisi, agaknya tetap harus ada catatan optimisme.

tapi, sudahlah. ini pilihan. persoalannya adalah, ketika saya atau sejumlah teman mungkin akan berada di posisi yang “tidak terlalu romantis”. terutama ketika bicara tentang bung presiden dan retorika semu politik pemberantasan korupsinya. apa, ia –teman, guru dan kawan itu– akan memilih berdiri berhadapan? bisa jadi ya. dan, dunia memang begulir belum tentu pada arah yang kita kehendaki.

tentang puasa, mungkin disinilai relevansinya. “kita bisa, tapi tidak melakukannya, kita diberi tapi tidak menerima”. Mungkin karena kita juga sadar, tidak selamanya tawaran manis itu berarti madu. bisa jadi sejenis racun bersalut gula.

namun, semoga ia mampu membangun sari pati yang kemudian jadi tetes yang memberi energi. dalam, doa, tetaplah konsisten, mas.

menjadi musuh

August 24, 2008

Pemberantasan korupsi pun agaknya juga butuh musuh. Seperti perang, yang hampir tidak menarik jika hanya lengang tanpa lawan. Seperti sekumpulan anggota parlemen juga, mungkin. Yang mencoba “membuat meriah” perang terhadap korupsi akhir-akhir. Tiba-tiba mengusulkan revisi kewenangan penyadapan KPK. Mereka bilang, “KPK tidak boleh seenaknya menyadap telpon genggam siapapun (baca: khususnya kami anggota dewan terhormat). Karena, melanggar HAM? Gila. HAM dari “hongkong”???

Kegilaan seperti ini, tentu bukan hal baru. sebelumnya sudah 7 institusi khusus pemberantasan korupsi dibunuh beberapa saat sebelum menyentuh kekuasaan. Dan, saat ini, DPR! Mencoba menafikan hak asasi pihak yang diwakilinya sendiri. Mengesampingkan moralitas dan tanggungjawab. Lebih memposisikan diri sebagai maling ketimbang “kakak” yang baik. Menjadi musuh.

cucu presiden

August 20, 2008

penghuni dunia bertambah satu. 17 Agustus 2008.

Pagi minggu itu, Presiden dan keluarga sepertinya agak tergesa-gesa menghadiri ritual tahunan 17 Agustus 2008. Ia telah jadi kakek tepat sejak Pukul 06.20 WIB. Satu kabar datang dari kamar nomor 3043 rumah sakit pondok indah, yang mungkin membuat beberapa helai rambut lebih punya motivasi untuk tumbuh putih.

Satu makhluk Tuhan, hadir. Satu kehidupan baru. Perempuan. Cucu seorang presiden, sekaligus cucu seorang mantan deputi gubernur Bank Indonesia yang terancam ditetapkan sebagai tersangka kasus korupsi. Perempuan yang punya dua kakek. Ia tidak bersalah, namun di tahun-tahun awal pendidikan, agaknya ia akan cukup sering berkunjung pada “rumah baru” sang kakek.

Semoga tidak harus menyebrang laut, dan mengetuk salah satu pintu “pulau” di Cilacap-Jawa Tengah itu.

bawaan orok

August 20, 2008

ada teman yang baru saja datang dan bicara tentang tambang. ia bilang, ingin riset soal kontrak karya pertambangan.

agaknya ia bisa temukan, bagaimana modal menyusun serpih-serpih hukum. menjadi benteng agar rakyat tak bisa masuk dalam lingkaran lebih dekat. menjadi payung, agar perselingkuhan dengan pemerintah korup dijamin aman. menjadi apa saja, yang penting menguntungkan. disini hukum lebih sebagai alat legitimasi yang mendepak apa yang seharusnya dilindungi hukum itu sendiri.

dalam bahasa sederhana, orang sering bilang, itu bawaan orok kapitalisme…

modal. bangsat.